OBJEK IPA DAN PENGAMATANNYA (MATERI BAB 1, IPA SMP KELAS 7 KURIKULUM 2013)

OBJEK IPA DAN PENGAMATANNYA

Pada kehidupan sehari-hari, kita dapat menemukan berbagai macam benda yang memiliki bentuk dan ukuran yang beragam. Benda-benda tersebut dapat kita ukur besarnya dan dinyatakan dalam suatu angka. Sebagai contoh, saat membeli beras di pasar, kamu akan menyebutkan massa beras yang kamu beli, misalnya satu kilogram beras. Contoh lain, saat membeli kain, kamu akan menyebutkan panjang kain yang diinginkan, misalnya dua meter kain. Dalam hal ini, massa dan panjang merupakan besaran fisika. Dapatkah kamu menjelaskan yang dimaksud dengan besaran? Temukan jawabannya pada materi berikut !

A.    PENYELIDIKAN IPA

IPA adalah suatu ilmu yang mempelajari tentang alam sekitar beserta isinya. IPA mempelajari semua bendaa-benda yang ada di alam, peristiwa, dan gejala-gejala yang muncul di alam. IPA mempunyai peran penting dalam kehidupan manusia, baik di masa lalu, sekarang, maupun masa yang akan datang.

IPA dapat dipelajari dengan mengamati objek. Objek yang diamati dalam IPA dapat berupa benda yang sangat kecil seperti atom dan bakteri, ataupun objek yang berukuran sangat besar seperti laut, bumi, dan matahari. Secara umum, objek pengamatan IPA dapat dibedakan menjadi dua, yakni objek biotik dan objek abiotic.

1.  Objek biotik, meliputi semua jenis makhluk hidup, diantaranya manusia, hewan, tumbuhan, dan mikroorganisme (misalnya virus dan bakteri).

2.  Objek abiotik, meliputi benda mati yang menyusun lingkungan, misalnya air, tanah, udara, kelembaapan, suhu, dan pH (derajat keasaman).

Penyelidikan objek IPA dapat dilakukan melalui pengamatan, percobaan, maupun penelitian. Namun, melakukan penyelidikan IPA, kita harus memiliki beberapa keterampilan. Keterampilan proses IPA didasarkan pada pengamatan terhadap apa yang dilakukan dalam ilmu pengetahuan alam. Beberapa keterampilan proses dalam IPA sebagai berikut.

1.  Mengamati

Pengamatan merupakan proses untuk mengenal objek dan peristiwa melalui indra. Pengamataan dilakukan untuk memperoleh data dan informasi terkait permasalahan IPA yang sedang dipelajari. Pengamatan objek IPA dapat dilakukan dengan menggunakan pancaindra saja ataupun dengan menggunakan alat ukur yang sesuai. Pengamatan yang dilakukan dengan menggunakan alat indra saja disebut pengamatan kualitatif. Data yang hasil pengamatan kualitatif disebut dengan data kualitatif. Adapun pengamatan yang dilakukan dengan alat bantu pengukuran yang sesuai dan pancaindra disebut pengamatan kuantitatif.

2.  Mengklasifikasi

Mengklasifikasi atau mengelompokkan merupakan suatu proses memilah berbagai objek atau peristiwa berdasarkan persamaan dan perbedaan sifat atau ciri-cirinya sehingga diperoleh kelompok sejenis dari objek atau peristiwa yang dimaksud. Objek dengan ciri sama akan digolongkan pada kelompok yang sama. 

3.  Mengukur

Keterampilan dalam mengukur memerlukan keterampilan untuk menggunakan alat ukur secara benar dan kemampuan untuk menerapkan cara perhitungan dengan menggunakan alat-alat ukur. Pemilihan alat ukur dalam kerja penyelidikan bergantung pada percobaan yang dilakukan. Jika alat ukur sudah ditetapkan, kamu harus tahu cara menggunakannya dengan benar.

4.  Menginferensi/Menyimpulkan

Menginferensi adalah kegiatan menginterpretasi atau menjelaskan data pengamataan sehingga data tersebut mempunyai makna. Interpretasi data membutuhkan suatu patokan atau acuan.

5.  Memprediksi

Memprediksi adalah kegiatan meramalkan tentang apa yang akan terjadi pada observasi yang akan datang melalui cara-cara tertentu yang sudah baku.

6.  Menganalisis

Analisis merupakan kegiatan menguraikan data-data yang diperoleh sehingga dapat digunakan untuk membuat suatu kesimpulan. Data yang telah dianalisis digunakan untuk membuat kesimpulan. Data biasanya disajikan dalam bentuk tabel, grafik, atau gambar yang relevan.

7.  Melakukan Percobaan atau Penyelidikan

Percobaan IPA harus dilakukan secara terencana dan sistematis dengan menggunakan metode ilmiah. Metode ilmiah merupakan suatu cara memecahkan masalah ilmiah dengan langkah-langkah tertentu yang teratur. Langkah-langkah metode ilmiah sebagai berikut.

a.  Merumuskan Masalah

Langkah awal dalam melaksanakan kerja ilmiah adalah merumuskan masalah, yaitu menentukan hal-hal apa saja yang akan dipelajari atau diteliti untuk memperoleh jawaban dari permasalahan tersebut.

b.  Menyusun Dasar Teori

Dasar teori memuat teori-teori apa saja yang digunakan sebagai acuan dalam penyelidikan IPA. Dasar teori dapat diambil dari jurnal hasil penelitian, buku referensi, maupun pendapat ahli.

c.  Merumuskan Hipotesis

Hipotesis merupakan jawaban (dugaan) sementara mengenai masalah yang akan dihadapi. Kebenaran hipotesis perlu dibuktikan dengan melakukan percobaan (eksperimen).

d.  Mengumpulkan Data

Pengumpulan data digunakan untuk menguji kebenaran hipotesis. Ada dua cara untuk mengumpulkan data, yakni dengan melakukan pengamatan secara langsung (pengamatan alamiah) ataupun dengan cara melakukan percobaan (eksperimen).

e.  Analisis dan Interpretasi Data

Analisis data merupkan kegiatan untuk mengklarifikasi, menghitung, menilai, dan mengartikan data-data yang kita peroleh sehingga ada gambaran atas jawaban permasalahan yang kita hadapi.

f.   Menarik Kesimpulan

Kesimpulan merupakan jawaban akhir masalah yang diteliti. Kesimpulan diperoleh dari hasil analisis data. Dari kesimpulan dapat diketahui benar/tidaknyaa hipotesis yang telah dibuat.

8.  Mengomunikasikan Hasil

Hasil penelitian harus dapat dikomunikasikan, baik dengan lisan maupun tulisan. Mengomunikasikan hasil penelitian bertujuan agar hasil penelitian tersebut dapat dimanfaatkan oleh orang lain. Secara tertulis, dapat berupa laporan penelitian atau publikasi melalui majalah, koran, atau jurnal. Adapun dengan cara lisan, dapat dilakukan melalui presentasi dalam pertemuan ilmiah atau lomba KIR (Karya Ilmiah Remaja).

Metode ilmiah memerlukan sikap ilmiah. Sikap ilmiah adalah sikap terpuji yang dijunjung tinggi oleh masyarakat ilmiah. Beberapa hal berikut dapat dijadikan pedoman dalam bersikap ilmiah.

1.     Mengenali fakta dan opini

2.     Mengembangkan rasa ingin tahu

3.     Beraani mencoba dan tidak takut gagal

4.     Jujur dan teliti dalam mencatat dan mengolah data

5.     Tekun, ulet, dan tidak mudah putus asa

6.     Bertanggung jawab terhadap hasil penelitian

7.     Senantiasa mensyukuri karunia Tuhan Yang Maha Esa.

 

B.    PENGUKURAN

            Pengamatan objek dengan menggunakan panca indra merupakan kegiatan penting untuk menghasilkan deskripsi suatu benda. Akan tetapi, sering kali pengamatan juga dilakukan dengan menggunakan alat ukur tertentu. Pengukuran merupakan kegiatan membandingkan sesuatu yang diukur dengan besaran dan angka yang ditetapkan sebagai sebagai satuan. Pada kegiatan pengukuran, dikenal beberapa istilah seperti besaran, satuan, dan alat ukur. Berikut penjelasannya.

1.  Besaran

            Besaran dalam IPA didefinisikan sebagai segala sesuatu yang dapat diukur dan dinyatakan angka. Contoh besaran adalah massa, panjang, berat, dan suhu. Secara umum besaran fisis dapat dibedakan menjadi dua, yaitu besaran pokok dan besaran turunan.

a.  Besaran Pokok

            Besaran pokok adalah besaran yang satuannyaa sudah didefinisikan terlebih dahulu dan bukan besaran yang diturunkan dari besaran lain. Besaran pokok digunakan sebagai dasar bagi terbentuknya besaran-besaran yang lain. Pada tahun 1971, dalam Konferensi Umum tentang Berat dan Ukuran ke-14 ditetapkan tujuh buah besaran pokok sebagai berikut.

      Tabel 1.1.Besaran pokok

No.

Besaran Pokok

Lambang

Satuan

1.

Panjang

l

Meter (m)

2.

Massa

m

Kilogram (kg)

3.

Waktu

t

Sekon (s)

4.

Suhu

T

Kelvin (K)

5.

Kuat arus listrik

i

Ampere (A)

6.

Intensitas cahaya

I

Candela (cd)

7.

Jumlah/banyak zat

M

Mole (mol)

 

b.    Besaran Turunan

            Besaran turunan adalah besaran yang diturunkan dari satu atau lebih besaran pokok. Contoh besaran turunan adalah luas dan volume.

1)  Luas

Luas merupakan besaran turunan yang diturunkan dari besaran pokok panjang dengan satuan meter persegi (m2).

Luas = panjang x lebar  = meter x meter = m2

2)    Volume

Sama halnya dengan luas, besaran volume juga diturunkan dari besaran pokok panjang dengan satuan meter kubik (m3).

Volume = panjang x lebar x tinggi = meter x meter x meter = m3

Adapun beberapa contoh besaran turunan yang lain dapat kamu simak pada tabel di bawah ini.

           Tabel 1.2 Besaran Turunan

No.

Besaran Turunan

Lambang

Satuan

1.

Luas

A

Meter persegi (m2)

2.

Volume

V

Meter kubik (m3)

3.

Kecepatan

v

m/s

4.

Percepatan

a

m/s2

5.

Gaya

F

newton (N = kg. m/s2)

6.

Usaha

W

joule = (J = kg. m2/s2)

7.

Daya

P

watt (W = kg. m3/s2)


2. 
Satuan

            Sebelumnya, kamu telah mengetahui bahwa setiap besaran memiliki satuan. Satuan adalah sesuatu yang digunakan untuk membandingkan suatu besaran. Contoh satuan adalah meter, gram, jengkal, hasta, inci, dan lain-lain. Secaraa umum, satuan dibedakan menjadi dua, yaitu satuan tidak baku dan baku.

a.  Satuan Tidak Baku

            Satuan tidak baku adalah satuan yang apabila digunakan oleh orang yang berbeda dapat menghasilkan hasil pengukuran yang berbeda. Contoh satuan tidak baku adalah depa, hasta, jengkal, dan telapak kaki. Satuan ini hanya digunakan oleh orang atau suatu kelompok tertentu saja dan tidak berlaku untuk orang atau kelompok lainnya.

b.  Satuan Baku

            Oleh karena pengukuran menggunakan satuan tidak baku memberikan hasil yang berbeda-beda dan sering menimbulkan kekeliruan maka diperlukan satuan yang nilainya tetap meskipun digunakan oleh orang yang berbeda. Satuan yang apabila digunakan oleh orang yang berbeda memberikan hasil pengukuran yang sama dinamakan satuan baku. Satuan baku bersifat umum (disepakati secara internasional) dan dapat dipakai di setiap daerah atau Negara. Contoh satuan baku adalah meter untuk satuan panjang, kilogram untuk satuan massa, serta celcius (0C) dan Kelvin (K) untuk satuan suhu.

3.  Sistem Satuan Internasional (SI)

            Sebenarnya satuan besaran dapat ditentukan secara sembarang. Akan tetapi, hal ini akan menyulitkan kita karena kita harus mengenal berbagai satuan dan harus menghafalkannya. Oleh karena itu, tahun 1960, sebuah konferensi antarnegara di Perancis berhasil menetapkan suatu sistem satuan. Sistem satuan itu dikenal sebagai Sistem Satuan Internasional (Systeme Internationle d’Unites) atau SI.

            Dengan adanya satuan internasional, diharapkan dapat mempermudah komunikasi ilmiah antarnegara dan hasil pengukuran di seluruh dunia dapat seragam. Akan tetapi, tidak semua satuan dapat dijadikan sistem satuan internasional. Sistem satuan internasional merupakan sistem satuan yang baik (baku) dan memenuhi persyaratan berikut.

a.  Mempunyai nilai tetap dan tidak berubah karena pengaruh apapun.

b.  Mudah ditiru agar setiap orang dapat dengan mudah membuat, memperoleh, dan menggunakannya sebagai satuan yang serupa.

c.   Bersifat universal (dapat digunakan oleh semua orang di seluruh dunia).

            Sistem satuan internsional dapat dibedakan menjadi dua hal, yaitu sistem mks dan sistem cgs. Sistem mks adalah sistem satuan yang menggunakan standar satuan meter, kilogram, dan sekon. Adapun sistem cgs adalah sistem satuan yang menggunakan standar sentimeter, gram, dan sekon. Meter dan sentimeter ditetapkan sebagai satuan panjang, kilogram dan gram ditetapkan sebagai satuan massa, sedangkan sekon ditetapkan sebagai satuan waktu. Adapun keuntungan yang kita peroleh saat menggunakan satuan SI sebagai berikut :

a.  Satuan SI berdasarkan sistem decimal, yaitu perkalian dengan bilangan 10.

b.  Setiap besaran hanya mempunyai satu satuan pokok, sedangkan untuk satuan yang lebih besar atau lebih kecil dihubungkan dengan satuan pokok dengan memberi awalan.

Awalan-awalan yang sering digunakan dalam SI dapat kamu simak pada tabel berikut :

              Tabel 1.3 Awalan-awalan yang sering digunakan dalam SI

Untuk Satuan di Atas MKS

Untuk Satuan di Bawah MKS

Awalan

Singkatan

Faktor

Awalan

Singkatan

Faktor

Deka

da

101

Desi

D

10-1

Hekto

h

102

Senti

C

10-2

Kilo

k

103

Mili

M

10-3

Mega

M

106

Mikro

10-6

Giga

G

109

Nano

N

10-9

Tera

T

1012

Piko

P

10-12

Peta

P

1015

Femto

F

10-15

Exa

E

1018

Atto

A

10-18

 

4.  Alat Ukur

            Pernahkah kamu mengukur tinggi badanmu? Untuk mengukur tinggi badan, kamu dapat menggunakan satuan tidak baku seperti jengkal dan hasta maupun dengan menggunakan satuan baku seperti meter dan sentimeter. Akan tetapi, karena pengukuran tidak baku memberikan hasil pengukuran yang berbeda-beda, maka sebaiknya proses pengukuran dilakukan dengan menggunakan satuan baku.

            Pada kegiatan pengukuran, tentu diperlukan alat ukur yang sesuai. Alat ukur adalah alat yang digunakan untuk mengetahui nilai suatu besaran melalui kegiatan pengukuran. Pada materi ini, hanya akan dibahas empat macam alat ukur yakni alat ukur panjang, massa, waktu, dan volume.

a.  Alat Ukur Panjang

            Besaran panjang dapat diukur dengan menggunakan berbagai alat ukur seperti penggaris (mistar), meteran kelos (rol meter), jangka sorong, atau mikrometer sekrup. Berbagai alat ukur tersebut memiliki nilai ketelitian yang berbeda-beda. Nilai ketelitian adalah nilai terkecil yang masih dapat diukur.

1)   Penggaris/mistar

            Kamu tentu sudah tidak asing lagi dengan penggaris, bukan? Penggaris atau mistar merupakan alat ukur panjang yang digunakan untuk mengukur panjang benda-benda lurus dan tidak terlalu panjang. Penggaris memiliki ketelitian 1 mm. pengukuran panjang dengan menggunakan mistar yang benar adalah skala 0 pada mistar harus berimpit dengan ujung benda yang akan diukur panjangnya. Perhatikan gambar di bawah ini !

Gambar 1.01 Mistar

Hasil pengukuran yang ditunjukkan oleh gambar di atas adalah 6,3 cm.

2)   Meteran kelos (rol meter)

            Meteran kelos atau rol meter merupakan alat ukur yang digunakan untuk mengukur panjang benda yang memiliki jarak yang agak jauh, seperti pengukuran lebar jalan, keliling halaman, ataupun lebar tanah. Meteran kelos juga dapat digunakan untuk mengukur panjang benda yang melengkung, missal keliling batang pohon. Ketelitian meteran kelos mencapai 1 cm.

3)   Jangka sorong

            Jangka sorong merupakan alat ukur panjang yang memiliki ketelitian lebih tinggi dibandingkan dengan penggaris maupun meteran kelos. Ketelitian jangka sorong adalah 0,1 mm. jangka sorong memiliki dua bagian, yaitu rahang tetap dan geser. Pada rahang tetap terdapat skala utama dengan tiap skala menyatakan 1 mm, sedangkan pada rahang geser terdapat skala nonius dengan tiap skala menyatakan 0,1 mm.

Gambar 1.2 Jangka Sorong

            Jangka sorong dapat digunakan untuk mengukur diameter dalam dan bagian luar suatu tabung serta mengukur kedalaman tabung atau lubang. Pengukuran besaran panjang dengan menggunakan jangka sorong dapat dilakukan dengan cara berikut.

a)     Jepit benda yang akan diukur dengan rahang geser jangka sorong.

b)     Amati dan baca skala utamanya.

c)     Amati dan baca skala nonius yang berimpit tegak lurus dengan satu tanda skala utama.

d)     Hasil pengukuran merupakan penjumlahan dari pembacaan pada skala utama dan nonius.

Contoh :

Berapakah skala yang ditunjukkan oleh jangka sorong di bawah?


Penyelesaian :

Skala utama = 2,2 cm

Skala nonius = 4,5 x 0,01 cm = 0,045 cm

Hasil pengukuran = skala utama + skala nonius

     = 2,2 + 0,045 = 2,245 cm

4)     Mikrometer sekrup

            Mikrometer sekrup adalah alat ukur panjang yang memiliki ketelitian paling tinggi. Mikrometer sekrup mempunyai ketelitian 0,01 mm sehingga cocok untuk mengukur tebal uang logam, diameter kawat email, dan tebal kertas.

Gambar 1.3 Mikrometer sekrup

            Sama halnya seperti jangka sorong, mikrometer sekrup juga mempunyai dua skala, yaitu skala utama dengan tiap skala menyatakan 1 mm dan skala nonius dengan tiap skala menyatakan 0,01 mm. Adapun hasil pengukuran mikrometer sekrup adalah penjumlahan dari pembacaan pada skala utama dan nonius.

Contoh :

Berapa skala yang ditunjukkan oleh mikrometer sekrup pada gambar di atas?

Penyelesaian :

Skala utama = 4,5 mm

Skala nonius = 12 x 0,01 mm = 0,12 mm

Hasil pengukuran = skala utama + skala nonius = 4,5 + 0,12 = 4,62 mm

b.  Alat Ukur Massa

            Massa adalah ukuran jumlah materi yang dikandung oleh suatu zat. Pengukuran besaran massa dapat dilakukan dengan menggunakan alat ukur seperti neraca pasar (timbangan pasar), neraca ohauss, dan neraca elektronik (neraca digital).

1)     Neraca pasar (timbangan pasar)

Gambar 1.4 Neraca pasar

Neraca jenis ini sering kita temukan dalam kehidupan sehari-hari, terutama di pasar. Neraca ini digunakan pedagang untuk menimbang berbagai barang dagangan di pasar, seperti beras,  daging, gula, dan telur. Cara menggunakan alat ini adalah dengan meletakkan benda yang akan diukur massanya pada salah satu sisi dan meletakkan anak timbangan (massa kilogram standar) yang telah diketahui massanya pada sisi yang lain. Massa benda yang diukur sama dengan massa anak timbangan yang seimbang dengan benda.

2)     Neraca O’hauss

Gambar 1.5 Neraca O’hauss

            Neraca O’hauss terdiri atas sebuah piringan yang digunakan untuk meletakkan benda yang akan ditimbang. Pada neraca O’hauss tiga lengan, lengan pertama berskala ratusan gram, lengan kedua berskala puluhan gram, dan lengan ketiga berskala satuan gram. Pada saat pengukuran, benda yang akan ditimbang diletakkan pada piringan kemudian beban geser yang terdapat pada setiap lengan skala digeser hingga neraca menjadi setimbang. Setelah setimbang, massa benda dapat diketahui dengan menjumlahkan skala yang ditunjukkan oleh beban geser pada lengan skala. Neraca O’hauss tiga lengan ini mempunyai ketelitian 0,1 gram, sedangkan neraca O’hauss empat lengan memiliki ketelitian hingga 0,01 gram.

3)     Neraca elektonik (neraca digital)

Gambar 1.6 Neraca elektronik

            Neraca elektronik atau neraca digital merupakan neraca yang memiliki tingkat ketelitian paling tinggi, yakni 1 mg. bahkan, ada neraca jenis ini yang disebut neraca analitik elektronik yang ketelitiannya sampai 0,1 mg. oleh karena memiliki ketelitian yang tinggi, maka neraca ini digunakan pada berbagai bidang yang memerlukan ketelitian tinggi seperti penelitian-penelitian di laboratorium ataupun dalam bidang farmasi. Selain itu, penggunaan neraca ini sangat praktis. Benda yang akan ditimbang diletakkan pada tempat penimbangan kemudian massa benda akan tertera secara langsung pada layar.

c.  Alat Ukur Waktu

            Pengukuran besaran waktu dapat dilakukan dengan alat ukur seperti arloji (jam), stopwatch, dan jam atom sesium.

1)     Arloji (jam)

Gambar 1.7 Jam Tangan

Arloji maupun jam merupakan alat ukur waktu yang sering digunakan dalam kehidupan sehaaari-hari. Arloji ada dua macam, yakni arloji mekanik dan arloji digital. Pada arloji mekanik, terdapat tiga buah jarum yang masing-masing menunjukkan skala jam, menit, dan detik. Adapun arloji digital tidak memiliki jarum seperti arloji mekanik tetapi memiliki layar yang langsung menunjukkan waktu. Ketelitian yang dimiliki arloji adalah 1 detik.

2)     Stopwatch

Gambar 1.7 Stopwatch

Stopwatch merupakan alat ukur waktu yang digunakan untuk mengukur selang waktu yang sangat pendek. Stopwatch juga biasa digunakan saat olahraga, seperti lari atau renang. Sama halnya dengan arloji, stopwatch juga ada dua macam, yaitu stopwatch analog dan stopwatch digital. Stopwatch analog memiliki ketelitian 0,1 detik, sedangkn stopwatch digital memiliki ketelitian 0,001 detik. 

3)     Jam atom sesium

Gambar 1.8 Jam atom

Jam atom sesium merupakan alat ukur waktu yang memiliki tingkat ketelitian yang paling tinggi. Sesuai dengan namanya, alat ukur waktu ini digerakkan oleh atom sesium (Cs) dan diperkirakan hanya akan membuat kesalahan 1 sekon dalam waktu 1 juta tahun. Jam atom sesium banyak digunakan dalam penelitian yang memerlukan waktu yang sangat tinggi.   

d.  Alat Ukur Volume

            Benda-benda yang ada di sekitar kita umumnya memiliki bentuk tiga dimensi (bangun ruang). Selain panjang dan massa, dapat pula dilakukan pengukuran terhadap volume bangun ruang. Benda yang memiliki bentuk teratur, seperti kubus dan balok, maka volumenya dapat dihitung menggunakan rumus matematis. Perhatikan tabel di bawah ini!

Tabel 1.4 Rumus menghitung volume berbagai bangin ruang

No.

Nama Bangun Ruang

Perhitungannya

Rumus

1.

Volume kubus

sisi x sisi x sisi

s x s x s

2.

Volume balok

panjang x lebar x tinggi

p x l x t

3.

Volume tabung

x jari-jari x jari-jari x tinggi

 x r2 x t

4.

Volume bola

 x  x jari-jari x jari-jari x jari-jari

 x  x r3

Adapun untuk benda-benda yang memiliki bentuk tidak beraturan, seperti kerikil maka pengukuran volumenya dapat dilakukan dengan menggunakan gelas ukur ataupun dengan menggunakan gelas berpancuran. Berikut ini adalah cara pengukuran volume benda yang tidak beraturan.

1)     Pengukuran dengan menggunakan gelas ukur dan air

            Pengukuran volume benda yang tidak beraturan dengan menggunakan gelas ukur dan air, dapat dilakukan dengan cara mengisi gelas ukur dengan air hingga volume tertentu. Kemudian benda yang akan diukur volumenya dimasukkan ke dalam gelas ukur tersebut. Volume benda yang diukur sama dengan selisih volume air sebelum ditambahkan dan setelah ditambahkan benda.

Contoh :

Berapakah volume benda yang ditunjukkan oleh gambar di bawah ini?

Penyelesaian :

Vbenda = Vakhir - Vawal

Vbenda = 40 mL – 30 mL = 10 mL

2)     Pengukuran dengan menggunakan gelas berpancuran

Gambar 1.8 Gelas berpancuran

Pengukuran volume benda dengan menggunakan gelas berpancuran dilakukan dengan cara mengisi gelas berpancuran dengan air sampai penuh, tepat pada mulut pancuran, usahakan air tidak keluar lagi. Kemudian gelas ukur ditempatkan tepat di bawah pancuran. Selanjutnya, benda yang akan diukur volumenya dimasukkan dalam gelas berpancuran. Volume benda diukur sama dengan volume air yang tertampung dalam gelas ukur.

Post a Comment

0 Comments