Perbedaan Bank Syariah dan Bank Konvensional. Sama aja??

Perbedaan Bank Syariah dan Bank Konvensional

Perbedaan bank Syariah dan Bank Konvensioanal - Sebelum membahas jauh kesana, kita harus memahami dasarnya terlebih dahulu tentang apa itu bank.

Tujuannya agar pemahaman kamu nantinya tidak mengambang tentang perbedaan Bank Syariah dan Bank Konvensional.

Disimak baik-baik ya, jangan di-skip

Baik, kita masuk ke poin pertama

Apa Itu Bank?

Bank secara umum adalah sebuah lembaga keuangan yang berfungsi menghimpun dana, menyalurkan dana serta menyediakan jasa-jasa perbankan (tranfer uang, pembayaran dan sebagainya).

Sampai disini paham? Kalau belum mari kita sederhanakan.

Bank adalah salah satu lembaga keuangan yang tugasnya menghimpun uang dari masyarakat yang memiliki dana lebih (dalam bentuk tabungan) dan menyalurkan dana tersebut kepada masyarakat yang kekurangan dana (dalam bentuk pinjamanan), serta menyediakan jasa-jasa pembayaran lain.

Misalnya si A punya uang lebih dan ia menyimpan uangnya ke bank dalam bentuk tabungan.

Nah, disini bank sudah mempunyai modal dari uang simpanan si A

Kemudian si B membutuhkan modal bisnis, maka ia meminta uang ke bank dalam bentuk pinjaman.

Jadi antara si A, Bank dan si B, masing-masing memiliki keterkaitan. 

Bank berfungsi untuk menjembatani antara masyarakat yang punya uang lebih dengan masyarakat yang kekurangan uang.

Perbedaan Bank Syariah dan Bank Konvensional

Nah, setelah mengetahui apa itu pengertian Bank, sekarang kita akan masuk ke poin selanjutnya.

Ingat, ya! Jangan di-skip hehe

Bank Syariah dan Bank Konvensional. Sama Aja?

Kehadiran Bank Syariah di Indonesia membawa dampak besar bagi perekonomian Islam di tanah air.

Bank Syariah pertama yang berdiri di Indonesia adalah Bank Muamalat dan resmi beroperasi pada 1 Mei 1992.

Kehadiran Bank Muamalat ini memberi dampak positif terhadap perkembangan ekonomi Islam khususnya dalam bidang Perbankan Syariah.

Sehingga banyak Bank Syariah yang kemudian lahir setelah Bank Muamalat.

Kemunculan Bank Syariah di Indonesia tentu saja mendapatkan sambutan yang beragam dari masyarakat.

Ada yang memberi dukungan penuh dengan hijrah ke Bank Syariah, namun ada juga yang memandang sebelah mata.

Tidak sedikit orang yang menganggap bahwa Bank Syariah sama saja dengan Bank Konvensional.

Hal ini diyakini karena Bank Syariah dianggap masih menjalankan sistem bunga yang dilarang dalam syariat Islam.

Ada pula yang memberi pandangan bahwa Bank Syariah lebih mahal  dibanding dengan Bank Konvensional.

Serta pendapat-pendapat lain yang mendukung bahwa Bank Syariah sama saja dengan Bank Konvensional.

"Bedanya di kulit doang, isiannya sama aja" kata mereka.

Namun pada kenyataannya Bank Syariah berdiri sudah mendapat legalitas dari para ulama dan tokoh ekonomi Islam sebagai bank yang menjalankan usaha dan bisnisnya berdasarkan prinsip-prinsip Islam.

Setiap produk-produk yang ada di Bank Syariah sudah mendapat kebolehan dari para ulama dan tokoh-tokoh ekonomi Islam.

Lalu mengapa sampai sekarang masih ada masyarakat yang berpikir bahwa Bank Syariah dan Bank konvensional sama saja?

Atau bahkan kamu juga memiliki pandangan yang sama?

Nah, berikut ini beberapa perbedaan Bank Syariah dan Bank Konvensional yang perlu kamu tahu.

Simak baik-baik, ya!

Baca juga : Perbedaan Investasi Jangka Panjang dan Pendek untuk Pemula

Perbedaan Bank Syariah dan Bank Konvensional

1. Pengertian

Perbedaan pertama tentu saja dari pengertian.

Bank Konvensional adalah sebuah lembaga keuangan yang menjalankan kegiatan usahanya secara konvensional berdasarkan ketentuan dan prosedur yang telah di tetapkan oleh pemerintah.

Sedangkan Bank Syariah adalah sebuah lembaga keuangan yang menjalankan kegiatan usahanya berdasarkan prinsip dan  syariat Islam.

Prinsip ini diatur dalam Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan larangan dalam  melakukan aktivitas-aktivitas yang diharamkan dalam syariat Islam.

2. Dasar Hukum

Perbedaan selanjutnya antara Bank Syariah dan Bank Konvensional adalah dasar hukum antar keduanya.

Dasar hukum Bank Konvensional adalah hukum positif yang berlaku di Indonesia, seperti undang-undang dan peraturan-peraturan lainnya.

Sedangkan dasar hukum Bank Syariah adalah Alquran, Hadis, Ijma', Qiyas beserta hukum positif yang ada di Indonesia.

Jadi Bank Syariah selain diatur dalam kitab undang-undang, Alquran dan hadis justru menjadi dasar hukum paling utama dalam pelaksanannya.

3. Tujuan Pendirian

Selanjutnya yang menjadi perbedaan antara Bank Syariah dan Bank Konvensional adalah dari tujuan pendiriannya.

Tujuan pendirian bank konvensional adalah sebagai lembaga intermediasi keuangan bagi masyarakat serta memperoleh keuntungan.

Berbeda dengan Bank Syariah, selain memperoleh keuntungan, Bank syariah juga didirikan sebagai solusi bagi masyarakat dalam bidang perbankan.

Kehadiran Perbankan Syariah diharapkan dapat membantu masyarakat keluar dari lingkup riba yang dilarang dalam Islam, serta menjalankan kegiatan perekonomian yang sesuai dengan prinsip-prinsip Islam.

Seperti prinsip keadilan, kejujuran, kemaslahatan dan sebagainya.

Perbankan Syariah tidak hanya berorientasi terhadap keuntungan dunia, tetapi juga mencari keberkahan dunia dan akhirat.

4. Fungsi

Perbedaan Bank Syariah dan Bank Konvensional selanjutnya adalah dari segi fungsinya.

Secara umum Bank Syariah dan Bank Konvensional memiliki fungsi yang sama sebagai lembaga keuangan.

Yaitu menghimpun dan menyalurkan dana serta menyediakan jasa lalu-lintas keuangan.

Namun Bank Syariah disini memiliki fungsi yang lebih luas dibanding Bank Konvensional.

Bank Syariah selain fungsinya secara umum sebagai lembaga perbankan, juga menjalankan fungsi sosial dalam kegiatannya.

Salah satu contohnya adalah sebagai lembaga baitul mal, yaitu menerima zakat, infaq, sedekah, wakaf, hibah atau dana sosial lainnya untuk disalurkan kepada lembaga pengelolaan zakat.

Dari sini dapat dilihat bahwa bank syariah yang berlandaskan Alquran tidak hanya fokus pada tujuan dunia tetapi juga akhirat.

5. Sumber Pendapatan dan Pembagian Keuntungan

Dalam pelaksanaan bisnisnya Bank Konvensional memberlakukan sistem bunga yang berlaku sesuai dengan perjanjian.

Akad antara Bank Konvensional dengan nasabah dilakukan dengan kesepatan atas penentuan besar suku bunga.

Sedangkan Bank Syariah tidak menerapkan sistem bunga dalam transaksinya. Karena bunga adalah riba yang diharamkan dalam syariat Islam.

Sehingga dalam pelaksanaan bisnisnya Bank Syariah menerap sistem bagi hasil.

Gambaran sederhananya adalah sebagai berikut :

Anggap saja Bank memberikan modal usaha kepada Tuan A sebesar 50 juta selama 1 tahun.

Dalam hal pengembalian pinjaman, bank akan menetapkan perhitungan sebagai berikut :

*Bank Konvensional :

Jumlah pinjaman + bunga 30% dari modal --> 50jt + 15jt = 65jt

Jadi Tuan A harus mengembalikan uang kepada Bank Konvensional sebanyak 65jt. Tidak peduli usaha tersebut untung ataupun rugi.

*Bank Syariah :

Katakan saja keuntungan Tuan A selama 1 tahun dalam menjalankan usaha tersebut adalah 50jt :

Jumlah pinjaman + 30% dari keuntungan usaha --> 50jt + 15jt = 65jt

Jadi Tuan A harus mengembalikan uang kepada Bank Syariah sebanyak 65jt.

Hal ini berlaku apabila Tuan A mendapatkan keuntungan sebesar 50jt. Apabila keuntungannya sedikit maka semakin sedikit pula jumlah yang harus dibayar oleh Tuan A, begitupun sebaliknya.

Nah, dari sini terlihat bahwa pembagian keuntungan Bank Syariah lebih adil. Tergantung pada kelancaran usaha yang dijalankan oleh nasabah.

Apabila usahanya mendapatkan untung yang sedikit, maka sedikit pula jumlah yang harus dibayar, begitupun sebaliknya.

Berbeda dengan Bank Konvensional yang sudah menetapkan persenan bunga yang harus dibayar oleh nasabah dari jumlah pokok pinjaman. Bukan berdasarkan jumlah keuntungan yang diperoleh nasabah dalam menjalankan usahanya.

Baca juga : The Power of Zakat | Strategi dan Langkah-langkah Optimasi Fungsi Zakat untuk Kemaslahatan Fakir Miskin di Indonesia

6. Pengelolaan Dana 

Karen Bank Syariah didasari oleh nilai-nilai Islam, maka perbedaan Bank Syariah dan Bank Konvensional selanjutnya adalah pada sistem pengelolaan dana.

Bank Konvensional mengelola dan menyalurkan dananya seluas-luas mungkin untuk mendapatkan keuntungan asalkan tidak melanggar kebijakan undang-undang.

Sedangkan Bank Syariah akan lebih selektif dalam mengelola dan menyalurkan dananya.

Bank Syariah hanya akan mau memberikan dananya kepada usaha-usaha yang dianggap halal dan tidak bertentangan dengan nilai-nilai Islam.

7. Hubungan Kepada Nasabah

Hubungan antara bank dengan nasabah menjadi salah satu pembeda antara Bank Syariah dan Bank Konvensional.

Hubungan antara Bank Konvensional dengan nasabah adalah sebagai debitur dan kreditur.

Bank Konvensional berperan sebagai debitur dan nasabah berperan sebagai kreditur.

Berbeda dengan Bank Syariah yang hubungannya dengan nasabah terdiri dari : penjual-pembeli, kemitraan dan pemberi sewa-penyewa.

Pada akad Murabahah, Istishna' dan Salam Bank Syariah berperan sebagai penjual dan nasabah sebagai pembeli.

Pada akad Musyarakah dan Mudharabah Bank Syariah dengan nasabah berhubungan sebagai kemitraan.

Sedangkan pada akad Ijarah Bank Syariah berperan sebagai pemberi sewa dan nasabah sebagai penyewa.

8. Sistem Pengawasan

Perbedaan Bank Syariah dan Bank Konvensional berikutnya adalah dari sistem pengawasan.

Dalam segi pengawasan Bank Syariah dan Bank Konvensional sama-sama dibawah regulasi Bank Indonesia (BI) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Perbedaannya adalah terletak pada pengawasan Bank Syariah.

Selain kedua payung hukum di atas Bank Syariah juga diawasi oleh Dewan Pengawas Syariah (DPS).

DPS ini berfungsi sebagai badan pengawas, baik secara aktif maupun pasif terhadap pelaksanaan fungsi-fungsi Bank Syariah agar sesuai dengan prinsip-prinsip Islam.

9. Pengelolaan Denda

Perbedaan Bank Syariah dan Bank Konvensional yang terakhir adalah terletak pada pengelolaan dana denda.

Apabila kamu sebagai nasabah telat melakukan pembayaran kepada Bank Konvensional.

Bank Konvensional akan menetapkan denda yang harus dibayar atas keterlambatan pembayaran tersebut.

Sedangkan pada Bank Syariah tidak ada aturan denda bagi nasabah yang telat membayar kewajiban.

Bank Syariah akan mengadakan musyawarah untuk mencari jalan keluarnya.

Meskipun dalam kondisi tertentu Bank Syariah mengenakan denda pada nasabah, dana tersebut akan masuk kepada pendapatan non halal yang dialokasikan untuk dana sosial.

Kesimpulan

Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa Perbedaan Syariah dan Bank Konvensional adalah dari segi pengertian, dasar hukum, fungsi, pengelolaan dana serta pelaksanaan kegiatan operasionalnya.

Bank Konvensional menjalankan usaha bisnisnya berdasarkan aturan dari hukum positif atau undang-undang dan peraturan lainnya di Indoinesia.

Serupa dengan Bank Syariah, namun Bank Syariah memiliki pedoman utama dalam menjalankan kegiatan usahanya yang berdasarkan kaidah-kaidah Islam.

Semua produk-produk yang dikeluarkan oleh Bank Syariah sudah mendapatkan legalitas kebolehan dari para ulama dan pakar ekonomi Islam.

Namun apabila dalam pelaksanaannya, terdapat kekeliruan, kesalahan ataupun kecurangan pada Bank Syariah yang sudah memiliki Dewan Pengawas Syariah (DPS).

Tentulah kesemuanya itu diluar kendali kita sebagai nasabah yang sudah memilih Perbankan Syariah.

Bagi kaum muslim, memilih Bank Syariah merupakan salah satu bentuk usaha untuk menghindari diri dari riba dan unsur-unsur lainnya yang diharamkan dalam Islam.

Wallahua'lam

Baca juga : Ekonomi Masyarakat Desa Kutabuluh Jalan ditempat?

***

Terimakasih untuk kamu yang sudah membaca artikel ini sampai selesai. Silakan tinggalkan kesan dan pesan melalui kolom komentar.

Post a Comment

0 Comments